Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu

Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu

Oleh:

Tim Redaksi Situs Thariqah Kadisiyah

=====================================================================

Resume

Barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Barangsiapa yang berhasil memahami tujuan penciptaannya, maka ia akan Allah tetapkan di dalam Shirath Al-Mustaqim-nya (sehingga ia akan mengenal Rabb-nya).

=====================================================================

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.”
– Q.S. Asy-Syuura [42]: 11

MAN ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu. “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”. Begitulah kurang lebih makna dari sabda Rasulullah SAW tersebut.

Kata-kata itu sangat masyhur di kalangan para penempuh jalan penyucian jiwa. Meski begitu, tidak semua orang meyakini kata-kata tersebut adalah sabda Rasulullah SAW. Sebagian bersikeras bahwa itu bukan hadits. Sebagian lagi mengatakan hadits itu dha’if, bahkan palsu.

Baca lebih lanjut

Fungsi Qalb

Fungsi Qalb

Oleh:

Tim Redaksi Situs Thariqah Kadisiyah

====================================================================================

Resume

Qalb yang hidup, yang tidak terkunci mati dan tidak tertutupi oleh dosa, akan menjadi wadah bagi Al-Iman, sehingga sanggup memahami tanda-tanda dan petunjuk dari-Nya.

====================================================================================

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan qalb (hati) yang di dalam dada.”
– Q.S. Al-Hajj [22]: 46

BUKANLAH perkara mudah untuk menggapai hakikat makna qalb yang sesungguhnya. Namun bagi seorang salik, qalb (yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “hati”, atau “hati nurani”) menempati posisi sentral dalam sebuah laku jalan pertaubatan, sebuah jalan panjang pengenalan diri kepada Sang Khalik.

Dapat dikatakan, qalb-lah medan perjuangan yang sesungguhnya. Locus yang menjadi kunci utama di mana segenap daya juang dikerahkan untuk merebut dan memenangkannya. Qalb merupakan poros mikrokosmos dari seorang insan—sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ia adalah qalb.”   (H.R. Bukhari)

Baca lebih lanjut

Struktur Insan

 

Struktur Insan

Oleh :

Tim Redaksi Situs Thariqah Kadisiyah

 

Baca lebih lanjut

Tentang Manusia

Tentang Manusia

Oleh:

Tim Redaksi Situs Thariqah Kadisiyah

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka bagi mereka karunia yang tiada putus-putusnya.– Q.S. At-Tiin [95]: 4-6

 

AL-QUR’AN menggambarkan manusia sebagai makhluk yang menempati kedudukan yang sangat tinggi dan sangat khusus. Allah SWT, Sang Raja Semesta itu “mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 31) dan memintanya mengajarkan kembali rahasia-rahasia itu kepada makhluk-makhluk lainnya (Q.S. Al-Baqarah [2]: 33). Allah bahkan menyuruh kepada para Malaikat agar bersujud kepada Adam (Q.S. Al-Baqarah [2]: 34).

Namun dalam pandangan beberapa filsuf, eksistensi manusia hanyalah sebuah kebetulan alamiah saja. Hidup dalam pandangan mereka hanyalah sebuah rutinitas untuk mengukur jalanan dari pagi sampai petang, mencari makan, mengisi lambung yang tak seberapa ini.

Allah menantang pemikiran-pemikiran ini dalam firman-firman-Nya. Salah satunya berbunyi:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْ‌جَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakanmu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? “– Q.S. Al-Mu’minuun [23]: 115

Baca lebih lanjut

Misi Hidup

Misi Hidup

Oleh:

Tim Redaksi Situs Thariqah Kadisiyah

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
– QS. Al-Baqarah [2]: 30

 

ADA saat-saat dalam kehidupan setiap kita, manusia, ketika Allah meletakkan kita dalam sebuah suasana yang membuat kita merenung: kenapa hidup ini hanya terasa sebagai sebuah rutinitas? Bukan saja sebuah rutinitas, namun bahkan terasa mekanistik, semu, dan membosankan.

Pekerjaan terasa dangkal, rutin, dan mekanistik. Interaksi jadi cuma kewajiban sosial. Hobi dan kegemaran tidak lagi terasa dalam. Bahkan, ketika kita kembali ke pengajian untuk mencari kesegaran, agama dan khutbah tidak lagi terasa damai dan meneduhkan.

Dalam suasana hidup yang kering, mungkin pertanyaan akan mulai menyeruak: apa hidup ini sebenarnya? Kenapa saya begini, ada di sini. Untuk apa? Mengapa saya belum juga meraih kebahagiaan yang hakiki, yang sempurna?

Baca lebih lanjut

Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 31


Sahabats,

Setelah kita belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.

Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syeikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.

_______________________________________________________

Hikmah 31

“Janganlah menunggu selesainya perintang-perintang, untuk lebih mendekat kepada Allah, sebab yang demikian itu akan memutuskan kita, dari kewajiban menunaikan hak, terhadap apa yang Allah telah mendudukkan kita di dalamnya. (Sebab yang demikian itu memutuskan kewaspadaan kita terhadap kewajiban-kewajiban kita).”

Baca lebih lanjut

Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah Hikmah no 16-23


Sahabats,

Setelah kita belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.

Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syeikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.

______________________________________________________________________
Hikmah 16 – 23

“Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang mendhahirkan  segala sesuatu (adhara kulli syai’in).
Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: