Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 31


Sahabats,

Setelah kita belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.

Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syeikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.

_______________________________________________________

Hikmah 31

“Janganlah menunggu selesainya perintang-perintang, untuk lebih mendekat kepada Allah, sebab yang demikian itu akan memutuskan kita, dari kewajiban menunaikan hak, terhadap apa yang Allah telah mendudukkan kita di dalamnya. (Sebab yang demikian itu memutuskan kewaspadaan kita terhadap kewajiban-kewajiban kita).”

Ustadz Salim Bahreisy ra memberikan syarah (komentar, penjelasan) sbb:
Abdullah bin Umar ra berkata,“Jika engkau berada di waktu senja, maka jangan menunggu tibanya pagi, demikian pula jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu sore. Mari kita pergunakan kesempatan di waktu muda, sehat kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah dan miskin.”

Sahl bin Abdullah Attustary berkata,“Jika tiba waktu malam maka jangan mengharap tibanya siang hari, sehingga engkau menunaikan hak Allah, waktu malam itu. Dan menjaga benar-benar hawa nafsumu, demikian pula bila engkau berada pada pagi hari.”

Allah berfirman:
“Kami (Allah) akan menguji kamu dengan kejahatan dan kebaikan, sebagian ujian, dan kepada Kami kalian kembali.” (QS.Al-Anbiyaa'[21]:35)

Syaikh Fadhlala Haeri ra mensyarah sbb:
Pencari spiritual yang ikhlas akan selalu menerima dan menyetujui keadaannya sambil merenungkan makna dan kesempurnaan waktu. Jabatan-jabatan dan godaan-godaan duniawi adalah pembenaran yang palsu atas tidak adanya konstansi kesadaran dan penyembahan kepada Allah. Jangan menunggu waktu senang dan luang untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban spiritual dalam hidup ini. Jangan seperti orang sakit, yang mengatakan bahwa aku hanya akan memperoleh obat apabila aku sehat dan mampu.
Pencari spiritual yang setia hanya akan meraih ketenangan sejati dan kepastian batin apabila ia menyetujui terhadap waktu dan keadaannya dengan kepuasan dan keimanan total.

Sahabat, hal tentang taqarrub kepada Allah adalah sesuatu yang paling essensial dalam relasi antara kita dengan Allah, maka seyogyanya kita memprioritaskannya di atas urusan apa pun.

Laa haula wa laa quwwata illa billahi Al-‘Aliyyu Al-Adhim.[]

Sumber Tulisan:

1. Buku Terjemah Al-Hikam Syaikh Ibnu Aththoillah, terjemahan Salim Bahreisy, Penerbit Balai Buku, Surabaya, 1980.

2. Buku Petuah Ruhaniah Ibn Ata’illah (terjemah dari The Wisdom of Ibn Ata’illah oleh Ade Alimah) syarah Syekh Fadhalla Haeri, Pustaka Sufi, 2003.

Sumber Gambar:

1. https://serambitashawuf.files.wordpress.com/2011/01/alhikam1.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: