Pilar Ma’rifat Menurut Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi ra.

Sahabat yang sedang berjuang menempuh suluk (jalan spiritual),

Marilah kita mencermati dengan penuh kerendahan kemampuan diri, nasihat Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi ra. tentang apa-apa yang pilar dari ma’rifat. Semoga Allah merahmati dan memberi hidayah kepada kita. Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

“Wahai murid, bila Anda hendak berjalan melewati jalan ahli ma’rifat dan ahwal (ma’rifat adalah pengetahuan sejati tentang Allah, ahwal adalah keadaan ruhani atau ciri orang yang telah mencapai ma’rifah itu—peny.),  seharusnya Anda atau siapa pun mengikuti hal-hal berikut sebagai bantuan menuju jalan kebahagiaan:
Salah satunya adalah diam.

Ada dua macam diam: pertama, diam lisan (lidah) dari berbicara tentang selain-Allah Swt dengan oknum selain-Allah secara sekaligus; kedua, diam hati dari hal-hal yang muncul di hati mengenal yang maujud, diam sama sekali. Barang siapa lisannya diam tetapi hatinya tidak, maka dosanya akan ringan.
Barang siapa lisannya diam dan juga hatinya diam, maka yang rahasia akan menjadi jelas baginya, dan Allah akan menjadi jelas pula baginya. Barang siapa hatinya diam tetapi lisannya tidak, maka dia akan berkata dangan kata hikmah. Barang siapa yang lisan dan hatinya tidak diam, maka itu adalah kekuasaan setan dan ia tunduk kepadanya.
Diam dengan lisan adalah kelas orang awam dan mereka yang melakukan suluk (perjalanan spiritual), sedang diam dengan hati adalah sifat para muqarrabin (mereka yang didekatkan Allah kepada-Nya), diam milik ahli musyahadah (orang yang mampu menyaksikan kebesaran Allah).
Hal (kondisi ruhani) yang timbul dari diam para murid adalah selamat dari bahaya fitnah, sedang hal yang timbul dari diam para muqarrabin adalah timbulnya dialog kalbu yang lentur dan asyik.

Barang siapa menjalankan diam dalam semua keadaan, maka ia tidak akan sempat lagi berbicara kecuali dengan Tuhannya. Sebab, diam total sama sekali bagi manusia dalam dirinya sendiri, adalah mustahil.
Bila beralih dari berbicara dengan non-Allah ke berbicara dangan Allah, maka dia akan menjadi orang yang selamat, dekat kepada Allah, dan kuat ucapannya. Bila berbicara, ia akan barbicara dengan benar. Pembicaraannya bersumber dari Allah. Allah Swt berfirman mengenai hal Nabi-Nya Saw.:

“Dia tidak bicara dari hawa nafsu.” (QS Al-Najm;3).

Pembicaraan yang benar merupakan hasil diam dari kesalahan. Apa pun alasannya, berbicara dengan selain-Allah adalah kesalahan; sementara berbicara tentang selain—Allah, dipandang dari sudut mana pun, adalah kejelekan.

Allah Swt berfirman:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) untuk memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mendamaikan sesama manusia.” (QS Al-Nisa: 114).

Salah satu hal yang timbul karena diam adalah maqam (kedudukan) wahyu dengan segala macamnya, dan diam menghasilkan makrifat kepada Allah Swt.

***

2 Tanggapan

  1. Diam adalah hikmah
    Berbicara mengeraskan hati dan banyak bahaya, apalagi semuanya kelak dihisab, sedangkan hisap sama dgn tersiksa.

  2. Kadang memang aku diam, dan aku bicara sendiri tentang kehidupan ini, tapi mulutku tetap diam, tapi hatiku sudah bicara, dan aku tahu jawabnnya…. tetap diam, karena itu jawabnnya…. Subehanaallahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: