Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian X – selesai) – Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Sahabats,

Kali ini sebagai penutup rangkaian bekalnya buat para pejalan, Syaikh Ibnu Arabi ra. menekankan pentingnya menjalankan ajaran Ad-Diin secara paripurna, beliau juga menekankan resikonya di Yaumil Hisab nanti sekiranya kita mengabaikannya.

SEPULUH

Ibnu Arabi-1

Sahabat, pada wasiat kali ini, yang merupakan penutup dari serangkaian wasiat beliau bagi salik Syaikh Al-Akbar menekankan betapa pentingnya kita dalam menempuh jalan suluk senantiasa menghisab diri kita, sebagai bekal sebelum kita menghadapi hisab Allah di yaumil akhir nanti. Semoga kita mampu mengamalkannya.

Barangsiapa yang mengada-adakan teori tentang agamanya,
berarti ia sedang menyimpang dari Jalan Tuhan dan Keselamatan. Seorang bid’ah!
Wahai, berjalanlah menuju Sang Hukum! Jangan membangkang.
Semua jalan di luar itu terlarang bagimu. Tinggalkanlah semua larangan.
Setiap larangan merupakan hal sampah yang akan mengotori maqom dan ahwalmu.

Wahai, para Pejalan, kata-kata Tuhan dan para utusan-Nya bukanlah untuk didiskusikan;
bukanlah sekedar kata!
Karena itu, Ad-Diin kanlah Kata-kata itu!


————–

Semoga Al-Haqq membangunkanmu dari tidur nyenyak berkepanjangan. Semoga Dia membukakan kesejatian dirimu sebagai tanda benarnya taubatmu. Semoga hanya Dia Tempat Kembalimu.

Semoga Sang Pengamat segala sesuatunya membukakan pandangan batinmu sehingga kau mampu melihat dan mengingat kembali apa yang telah engkau lakukan dan katakan sepanjang hidupmu. Lalu kau akan mengetahui dan selalu ingat serta menghisab semuanya dengan detil. Semua itu akan dipertanggungjawabkan pada hari Pembalasan nanti.

Jangan pernah lupa akan kedatangan hari Perhitungan. Di sanalah segala sesuatunya akan dihisab. Satu-satunya jalan keselamatan adalah menempuh jalan kesucian dan membersihkan dosa-dosamu.

Hadits Nabi Muhammad saw., “Hisablah dirimu sendiri sebelum engkau dihisab, timbanglah dosa-dosamu sebelum mereka memberatkanmu.”

Periksalah setiap sisi kehidupanmu; Jangan biarkan dosa-dosa menelan kebaikan-kebaikanmu. Berjuanglah semampumu selagi hayat masih dikandung badan, selama masih ada kesempatan untuk hidup; sebelum kau dikkubur sendirian dalam lubang gelap liang lahat.
Apapun yang engkau terima dalam kehidupan di duniai merupakan pinjaman dari-Nya yang datang melalui Tangan-tangan ghaib-Nya; bukan milikmu. Kau hanya seorang kasir yang mendistribusikan kiriman-Nya, dan kau bertanggung jawab untuk menjaga dan menggunakannnya dengan benar (haqq). Itulah pengembalian pinjaman yang benar.

Jika kau tidak melakukan hal itu, maka yakinlah bahwa pada hari Pembalasan nanti kau akan berteriak dan meminta pertolongan. Tetapi, tiada seorangpun yang akan menolongmu.

Wahai, dengarkanlah suara Illaahiyyah yang datang melalui aturan dan perintah-Nya, Sang Penghukum orang-orang yang berdosa. Ikutilah aturan dan perintah-Nya tanpa dipilih-pilih, ditambah-tambah ataupun dikurang-kurangi.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا [١٧:١٤]

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”(QS. Al-Isro'[17]:14)

Bukankah Allah telah mengirimimu para utusan-Nya? Bukankah Dia telah menunjukkanmu Jalan Kebenaran? Bukankah Dia telah memerintahkanmu untuk mendzikiri-Nya sepanjang pagi dan malam? Bukankah Dia telah memberikanmu kesempatan untuk mengikuti perintah-perintah-Nya?

Jika kau hanya menunggu dan menungguh hingga waktumu habis, maka penyesalanmu tiada guna. Jika kau selalu menunggu dan menunda penghisaban dirimu sendiri, ketahuilah bahwa semua pintu dan jendela akan ditutupkan bagimu dan kau akan ditinggalkan. Ketahuilah, bahwa tiada pintu dan jendela lain, tiada tempat lain sebagai tempat perlindungan. Tiada tempat untuk pergi – bagimu, siapapun, dan apapun – selain pintu Rahmat Allah. Menujulah ke sana dan berlututlah. Pancarkanlah dengan deras tangis taubatmu dan bermohonlah untuk masuk. Berusaha dan lihat apa yang berada di balik tirai-tirai terselubung.

Ada tiga bahaya bagi engkau yang tidak menghisab dirimu sendiri dan tidak mensyukuri Allah Sang Maha Pemurah, yaitu:
1. Ketidaksadaran, ketertutupan, ketidaktahuan akan Tujuan hakiki
2. Meluapnya rasa dan hasrat yang memancar deras dari egomu (pikiran tidak benar + hawa nafsu), diri rendahmu
3. Menumpuknya kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjadikanmu bagai mesin pembuat dosa.
Seseorang yang mampu melindungi dirinya dari tiga bahaya di atas, dengan Rahmat (pertolongan) Allah, akan mendapatkan keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Rahmat dan Berkah Allah bagi Nabi kita, Rasulullaah Muhammad saw. dan anak-cucunya serta karib kerabatnya – dalam setiap lidah yang berkata, tempat tinggal dan setiap tingkatan spiritual.[]

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sumber Tulisan:
Notes FB dari sahabat Dwi Afriyanti Arifyanto

Sumber Gambar:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: