Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian IX) – Muhyiddin Ibn ‘Arabi

Ibnu Arabi-1Sahabat, bagaimana hakikat dunia dan pensikapan yang benar terhadapnya merupakan inti dari wasiat Syaikh Al-Akbar kali ini. Semoga kita mampu mengamalkannya.

SEMBILAN

Dunia adalah tempat persiapan untuk akhirat; setiap orang diberikan banyak pelajaran dan menerima pelbagai ujian kesenangan dan tidak mengenakkan. Ambillah hanya sedikit kesenangan yang ada di dalamnya. Merasa cukup, dan berpuaslah dengan apa yang ada di tanganmu, bahkan jika lebih sedikit daripada yang dimiliki oleh orang lain. Intinya, selalu memilih dan mengambil dengan sedikit.

Dunia bukanlah sesuatu yang buruk, sebaliknya merupakan sawah ladang tempat kau bercocok tanam yang hasilnya akan engkau panen di akhirat. Dunia harus dipergunakan sebagai jalan untuk memuaskan batin dengan kebahagiaan menerima yang sedikit dan segala kebaikannya; manfaatkan untuk saling berkasih sayang dan mensyukuri-Nya.

Dunia menjadi buruk jika kau buta akan kebenaran sehingga tidak bisa memanfaatkan dunia dengan sebenarnya; yang ada hanyalah kau sibuk memuaskan hasrat rendahmu, pelbagai obsesi, dan ambisi melalui dunia ini. Rasulullah Muhammad saw . ditanya, “Seperti apakah cinta dunia?” Beliau saw. menjawab demikian, “Segala sesuatu yang menyibukkan dirimu yang menyebabkan engkau melupakan Tuhanmu.”

Karena itu, segala sesuatu yang ada di dunia, termasuk harta benda bukanlah sesuatu yang membahayakan, kecuali jika mereka menyebabkan kau melupakan, membangkang, dan tidak menyadari Kehadiran Illahi yang dengan kemurahan-Nya memberikan mereka kepadamu. Dunia menjadi buruk dikarenakan engkau merasakan dan berhubungan begitu kuat dengannya, dan engkau menginginkan dunia jauh daripada yang Tuhan sudah berikan kepadamu. Hal itu akan membuatmu kehilangan sensisitivas menyadari Kehadiran Allah dan akan memutuskan hubunganmu dengan Al-Haqq.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa yang memilih dunia daripada akhirat, ia akan mengalami penderitaan dalam 3 hal, yaitu:
1. Merasa mengangkat beban yang tak kunjung usai
2. Merasa miskin yang tak pernah merasa lebih kaya
3. Selalu merasa mengejar sesuatu (ambisi) dan selalu merasa lapar yang sampai kapanpun tak pernah terpuaskan.”

Bagi seorang yang terikat dengan dunia akan merasakan kesakitan dan kesulitan; mencoba menyelesaikan masalah-masalahnya dengan mengandalkan kekuatan pribadi, menggantungkan diri sepenuhnya kepada dunia bagaikan seorang pengemis, dunia dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan jasad dan egonya. Jasad, yang merupakan makanan empuk bagi ego tidak akan pernah merasakan puas, tidak pernah menyudahi ambisi-ambisinya, ia selalu mencari, selalu lapar, dan selalu tidak puas. Akibatnya, ia yang menuhankan dunia akan melupakan Allah, Tuhan semesta alam-alam.

Penjelasan di atas bukan berarti kau harus meninggalkan dunia, tidak melakukan tugas-tugasmu berkenaan dengannya atau berpartisipasi dalam suatu kegiatan, atau pasif diam tidak melakukan apa-apa , tidak berusaha, dan tidak bekerja.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda,
“Allah suka melihat orang-orang beriman yang bekerja dalam keshalehannya.”
“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang yang bekerja dengan kedua tangannya.”
“Seseorang yang bekerja keras dengan halal untuk memenuhi kebutuhannya akan dicintai Allah.”
Hadits-hadits tersebut bermakna bahwa rahmat Allah meliputi mereka yang bekerja keras dengan tangannya.” Itu juga yang menjadi alasan bagi para nabi bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Pada suatu hari, Sahabat Umar bin Khattab ra. bertemu dengan sekelompok orang yang duduk bermalas-malasan tanpa melakukan apapun. Beliau ra. bertanya, “Siapakah kalian?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang berpasrah menantikan Tangan-Nya untuk memenuhi kebutuhan kami, dan kami meyakini-Nya.”
“Sungguh kalian bukan seperti itu!” Beliau menjawab dengan marah,”Kalian orang-orang yang menyia-nyiakan waktu, parasit bagi apa yang diusahakan orang lain! Bagi siapa saja yang sebenar beriman di Dalam Allah, ia akan menanam benih di dalam rongga perut bumi ini, lalu mengharapkan dan menantikan kedatangan Tangan-Nya Sang Pemelihara.”

Setiap orang tiada terlarang untuk melakukan pekerjaan apapun asalkan sesuai dengan Hukum Allah dan berada dalam keadaan beriman kepada Allah. Iman terlihat nyata dalam perilaku dan syariat agama yang dijalankan oleh seseorang, termasuk dalam pekerjaannya.

Qs. 62 : 10

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [٦٢:١٠]

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Ketika kita bekerja, janganlah semata demi meraih keuntungan dunia. Orang yang mencintai dunia akan mengidentifikasikan dirinya dengan segala perolehan duniawinya dan berbangga atas hal itu. Penuh dengan ambisi, dia mendedikasikan dirinya untuk mengumpulkan benda-benda baik halal, syubhat, ataupaun haram. Akibat terburuknya adalah ia tak lagi mampu untuk melihat sesuatu yang salah, untuk berpikir tentang Jalan Kebenaran. Baginya, dunia merupakan satu-satunya jalan kebenaran.

Begitu cinta dunia memenuhi hatimu, maka tiada tempat untuk mendzikiri Allah. Kau pun akan melupakan akhirat, kau lebih memilih dunia yang bersifat sementara ini. Semua yang kau butuhkan dari dunia adalah segala sesuatu yang mampu memuaskan ‘kelaparanmu’. Dunia menjadi alasan kau melalukan sesuatu. Wahai, sungguh janganlah merasa terpesona dengan tampilan sementara ikatan dunia yang tampak memikat dengan segala perhiasan ataupun dengan menginginkan kekayaan tanpa pertimbangan baik atau benarnya, halal – syubhat – haramnya. Renungkanlah, berapa lama, sih, seorang manusia tinggal di dunia ini?

Seseorang yang memilih dunia fana di atas kebenaran tidak akan pernah mencapai tujuannya. Ambisinya tak pernah terpuaskan. Tidakkah kau sadari bahwa Penentu Taqdir telah menetapkan rezekimu? Kau tidak akan menerima sesuatu lebih sedikit atau lebih banyak daripada yang telah ditetapkan oleh Sang Penentu Taqdir. Kau sadari atau tidak, tiada perubahan dengan Ketentuan Allah. Kita kehendaki atau tidak, kita tetap hanya bisa merefleksikan cermin dari Ketentuan Taqdir kita.

Qs. 43 : 32

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [٤٣:٣٢]

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Tetapi mereka yang mengambil dunia bagai tuhan yang melaksanakan keinginan-Nya tanpa batas, sementara keinginan-keinginan itu tetap tak pernah mampu mengangkat derajat mereka; mereka bagai orang yang tak pernah menerima apapun. Lama kelamaan mereka mengalami ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan dalam setiap sisi kehidupan, sementara di akhirat nanti mereka akan menghadapi murka besar Allah.

Hasrat akan dunia bagai air laut. Semakin banyak kau meminumnya, semakin haus engkau. Rasulullah Muhammad saw. mengajak umatnya untuk menganggap dunia bagai tumpukan sampah yang membuatmu tidak mau berada dekat dengannya. Ambillah jarak dengan dunia, berpuas dirilah dengan kadar yang telah Allah taqdirkan bagimu suka ataupun tidak suka.

Allah telah menasihati dan memperingatkan Nabi Musa as, “Wahai anak Adam, jika engkau puas dengan apa yang telah aku kadarkan bagimu, Aku akan membuat hatimu ridha dan penuh syukur. Tetapi jika engkau tidak puas dengan apa yang telah aku kadarkan bagimu, maka Aku akan membiarkan dunia menguasaimu. Kau akan berlomba di dalamnya bagai seekor hewan liar yang berlomba denga hewan-hewan liar lainnya dalam sebuah gurun pasir. Dan demi Kekuasaan dan Kemuliaan-Ku, kau tidak akan menerima darinya apapun yang tidak aku kadarkan bagimu, dan kau akan berada dalam kesalahan.”

Maksudnya,jika kau menerima bagian dunia sesuai dengan kadar yang telah Allah tentukan,maka engkau akan meraih sakinah dalam hatimu dan digolongkan sebagai hamba yang bersyukur dan dirahmati-Nya . Sebaliknya, Allah akan memberikan dunia yang sangat kau hasrati bagai seorang kawan sekaligus lawan. Dunia menjadi sebuah gurun bagi seekor hewan kelaparan. Kau akan terus berlari dan berlari hingga selalu kelelahan tanpa mampu untuk menemukan apapun di dalamnya. Allah bersumpah bahwa tiada yang akan kau peroleh selain kelelahan, ketidakpuasan, dan kehinaan.

Marilah meyakini dengan benar bahwa Allah telah mengkadar segala sesuatunya dengan begitu sempurna; berapa banyak makanan dan minuman yang mampu dimasukkan ke dalam perutmu, pakaian yang menutupi tubuhmu, sebuah tempat untuk hidup? Sederhanalah, itu lebih baik bagimu. Tiada kau akan merasa terbebani, dan hatimu akan berada dalam sakinah dan tanpa kekhawatiran; dan tentunya di akhirat nanti kau tidak akan disusahkan dengan hisab yang sedikit.

Jangan menukar kebahagiaan spiritualmu dengan kebahagiaan semu yang hanya sebentar. Tidak peduli betapa megah dan nyamannya, mereka akan mati ketika engkau mati. Ingatlah bahwa kematian merupakan langkah yang niscaya engkau alami, dan semua angan-anganmu akan menguap terbang.

Seperti ikatan dunia merupakan anak-anak dunia, maka ada juga anak-anak akhirat yang terikat dengan akhirat.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Jadilah sebagai anak-anak akhirat yang terikat dengan keabadian, bukan anak-anak bumi yang sebatas usia.”

Qs. 11 : 15 – 16

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ [١١:١٥]

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. “

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١١:١٦]

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”

Qs. 26 : 20

قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ [٢٦:٢٠]

Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.[]

 

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sumber Tulisan:
Notes FB dari sahabat Dwi Afriyanti Arifyanto

Sumber Gambar:
1. https://serambitashawuf.files.wordpress.com/2010/09/ibnuarabi-1-2.jpg

2. http://3.bp.blogspot.com/-7AJ12Ul-c0k/TZHOPGBcmHI/AAAAAAAAAcI/eUg6PqIWqck/s1600/al-quran.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: