Bersama Kami: Ajakan Para Auliya

Sahabats..

Merenungkan syair Maulana Rumi yang merupakan buah dari kecintaan beliau kepada Allah sungguh membuat ghirah kita terlecut. Kali ini beliau mengajak kita untuk menjalani hidup bersama atau seminimalnya mengikuti ajaran Para Wali Allah ra.

Walaupun engkau bukan seorang pencari,
ikutilah kami,
ikutlah mencari bersama kami.                   [1]

Walaupun engkau tak tahu bagaimana
caranya menari dan bernyanyi,
tirulah kami,
bersama kami engkau akan menari dan menyanyi.
[2]

Bahkan seandainya engkau adalah Qarun,
yang paling terkenal diantara hartawan,
ketika engkau jatuh cinta,
engkau akan menjadi seorang fakir.          [3]

Walaupun engkau seorang sultan,
engkau akan menjadi seorang hamba,
seperti kami.

Satu lilin pada pertemuan ini,
lebih bernilai daripada seratus lilin lain,
cahayanya lebih terang.
Apakah engkau masih hidup atau sudah mati,
engkau akan kembali hidup,
bersama kami.                                                   [4]

Lepaskanlah rantai dari kakimu,
melangkahlah ke taman mawar,
mulailah tersenyum dengan seluruh dirimu,
bagaikan mawar,
seperti kami.                                                      [5]

Tanggalkanlah duniamu sejenak,
dan perhatikanlah siapa yang hidup qalb-nya.
Lalu lemparkanlah baju mewahmu,
dan tutupilah dirimu dengan baju kehinaan,
seperti kami.

Ketika sebutir benih jatuh ke tanah,
ia akan berkecambah, tumbuh,
dan menjadi sebatang pohon;
jika engkau paham simbol-simbol ini,
engkau akan mengikuti kami,
jatuh ke tanah dan bersujud,
bersama kami.                                                  [6]

Berkata Syamsuddin at-Tabriz,
kepada kelopak mawar qalb,
“Jika sejenak saja mata qalb-mu terbuka,
akan engkau lihat apa-apa yang pantas
dipandang.”

Catatan:
[1]  “Awliya,” para Wali; antara lain dirumuskan dalam QS [10]: 62 – 64. Awliya memandu pencarian al-Haqq, bukan untuk membesarkan pranata dunia.
[2]  “Menari,” “menyanyi,” adalah respon jiwa merdeka kepada ilmu yang baru. “Harta itu harus engkau jaga, sedangkan ilmu itu menjaga dirimu,” (kurang lebih, begitu) kata sayidina Ali k.w. Maksudnya disini, ilmu yang menjaga diri hakiki seorang insan, jiwa-nya.
[3]  “Fakir;” para pencari selalu fakir (dalam kebergantungan yang sangat) akan al-Haqq yang Maha Mandiri (al-Ghaniy). Disini Rumi menyandingkannya dengan refleksi cermin (terbalik)-nya di alam-dunia: penguasaan akan harta dunia (Qarun).
[4]  “Lilin,” cahaya yang menerangi alam jiwa.
[5]  “Rantai,” keduniaan yang menjerat orang. “Mawar,” Akal Sejati; ‘Aql
[6]   Terkait “syajarah thayyibah” (QS [14]: 24)

Sumber: Rumi, Ghazal
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh
Nevit Ergin dan Camille Helminski.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Mas Herman Soetoma
Sumber Naskah:
Terimakasih buat Mas Herman S atas izin share-nya’
Sumber Gambar:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: