Apa-apa yang Dibutuhkan Pejalan (Bagian V) – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Sahabats…

Kali ini melanjutkan bekal-bekal sebelumnya, Syaik Al-Akbar Muhyiddin Ibnu Araby menjelaskan tentang mengendalikan marah dan beberapa perilaku untuk menyempurnakan akhlak kita. Marilah kita renungkan dan usahakan mengamalkannya.

LIMA

Ibnu Arabi-1Jika engkau berharap untuk menemukan al-Haqq, kecintaan Allah, dan Dukungan-Nya, maka tinggalkanlah perilaku negatif, kendalikanlah sifat buruk dan kemarahanmu . Jika engkau tidak mampu untuk tidak marah, setidaknya jangan perlihatkan marahmu; maka Allah akan senang dan betapa setan akan kecewa kepadamu. Engkau pun akan mulai untuk mendidik egomu, menguatkan dan mendekatkanmu kepada Jalanmu. Kemarahan merupakan hasil dan sebuah tanda dari adanya ego yang tidak terkendali, bagaikan seekor hewan buas liar bebas tidak terkurung. Mengeluarkan marah, bagai tali kekang yang engkau buang dari atas kepalamu dan memasukkan banyak keburukan ke dalamnya. Jinakkanlah kepalamu, kau ajarkan bagaimana berpikir dengan benar, untuk taat kepada Allah, sehingga tiada orang lain yang engkau sakiti ataupun dirimu sendiri.

Begitu engkau berhasil mengekang pikiranmu, maka begitu menghadapi orang yang kehilangan kendali dirinya dan marah-marah kepadamu, maka engkau akan menghadapinya dengan tenang. Kau tidak akan bereaksi agresif pada penyerangannya. Kau tidak akan menghukum atau merespon perilaku negatifnya dengan kekasaran juga, melainkan kau abaikan saja. Mengabaikan lebih efektif daripada membalasnya. Barangkali ia akan melihat akibat-akibat dari perbuatannya, akibat dari kemarahannya, menyadari hal benar – salah, dan akhirnya mengakui kesalahannya.

Perhatikanlah saran-saran tentang pengendalian marah ini dan jadikanlah sebagai karakter dirimu; maka tentu engkau akan memperoleh hasil dan ganjaran positif di dunia maupun di akhirat. Timbangan al-haqq mu akan berat. Itulah ganjaran dan kemuliaan terbesar yang akan engkau terima. Mengeluarkan kemarahan hanya akan mengundang murka besar Allah, Dia akan menghukummu. Pemaafanmu akan diganjar dengan ampunan-Nya. Adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan oleh seseorang yang disakiti oleh saudara-saudaranya seiman selain ampunan Allah semata?

Allah akan memperlakukanmu sama dengan perlakuanmu terhadap orang lain. Jadi berusahalah untuk memiliki kualitas perilaku yang baik: pendamai, penolong, lemah – lembut, dan penuh cinta. Dengan perilaku tersebut, berjama’ahlah. Engkau akan melihat bagaimana perilaku tersebut akan merahmati sekelilingmu, menciptakan harmoni, cinta – kasih, saling menghargai dan menghormati. Sang Kekasih Allah, Nabi Muhammad saw., memerintahkan kita untuk saling mencintai satu sama lain dan memelihara hubungan silaturahiim. Betapa Rasulullah Muhammad saw. mengulang-ulangi perintah ini dalam banyak cara, dalam banyak pernyataan. Untuk meninggalkan kemarahan, gantilah ia dengan penderitaan menahannya, memaafkan, dan tetap saling menjaga dan memperhatikan orang yang menyakiti. Kesemuanya merupakan, menjadi pilar dari tumbuh dan berkembangnya cinta.

Bukalah hatimu lebar-lebar, luaskanlah agar mampu menerima Rahmat Allah. Sebuah hati yang terahmati menjadi cermin manifestasi Allah. Ketika manifestasi Allah muncul dan datang melaluimu, begitu kau merasakan Kehadiran-Nya, maka kau akan malu ketika berperilaku salah. Hal itu akan menyebabkan antara engkau dan orang lain memiliki keterhubungan hati. Rahmat-Nya pun akan melindungimu dan orang lain dari dosa.

Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad saw., “Apakah yang dimaksud dengan Rahmat Allah?” Nabi Muhammad saw. menjawab, “Shalat dan mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau berada di Dalam Kehadiran-Nya, seolah-olah engkau melihat-Nya.” Rasa menghormati Allah terefleksi di dalam hati seorang mukmin yang mencapai level demikian.

Lalu Nabi Muhammad saw. melanjutkan, “Bagi engkau yang tak mampu melihat-Nya, yakinilah Dia tentu mampu melihatmu.”

Seorang mukmin yang mencapai level Rahmat Allah akan memiliki hati nurani. Dia akan merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasinya sehingga membuatnya malu untuk berbuat dosa. Nabi Muhammad saw. berkata lagi, “Memiliki hati nurani adalah kebaikan sempurna.” Jika seorang mukmin memiliki hati nurani, ia akan menyadari apa yang ia lakukan dan ia tidak boleh melakukan kesalahan. Seseorang dengan hati yang dipenuhi Allah, maka hawa nafsunya tak akan membahayakannya baik ketika ia berada di dunia maupun di akhirat nanti. Tanda-tanda seseorang yang sudah memiliki hati nurani, yaitu: berkurangnya arogansi dan merasa diri penting; keduanya merupakan ego. Orang seperti itu tidak akan pernah mencoba atau berusaha untuk mendominasi atau menguasai seseorang. Semoga kalian semua mencapai level Rahmat Allah dan memiliki hati nurani, dan semoga kalian semua memiliki kekuatan dan pandangan tajam menuju Allah semata. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Bangunlah sebelum terbit matahari, berdzikirullaah lah, dan bertobatlah . Dosa yang disertai taubat akan menghapus dosa itu. Dosa akan hilang bagaikan tidak pernah terjadi. Ketika perilaku, shalat, dan ibadah lain disertai oleh taubat, maka hal itu bagaikan cahaya di atas cahaya, keagungan di atas keagungan. Mendzikiri Allah dan memuji-Nya akan menyatukan keterceberaian di dalam hati – seperti ratusan pecahan kepingan cermin – menambalnya, menjadikannya satu kembali, dan mengembalikan hati untuk focus kepada Al-Ahad. Lalu semua kejahatan pun meninggalkan hati, dan hati lalu dipenuhi dengan kesenangan senantiasa mendzikiri-Nya.

Ketika hatimu penuh melimpah dengan mendzikiri-Nya, lalu membaca al-Quran; refleksikanlah maknanya pada dirimu. Pada ayat-ayat yang menunjukkan ke-ahad -an dan kesempurnaan-Nya, pujilah Dia. Pada ayat-ayat yang menunjukkan berkah, anugerah, rahmat, dan cinta atau kemurkaan dan hukuman-Nya, berlindunglah dari-Nya di Dalam Diri-Nya dan mohonlah Rahmat-Nya. Pada ayat tentang kisah para nabi dan pengikutnya, benar-benar perhatikan dan ambillah pelajaran dari apa-apa yang terjadi kepada mereka. Memang Al-Quran sulit dimaknai karena memiliki makna samar hingga tujuh lapis, di dalam setiap katanya. Maknanya berubah sesuai dengan perubahan maqom dan ahwalmu, pengetahuan dan pemahamanmu. Karena itu, tidak mungkin kau akan pernah merasa lelah, lemah, atau bosan dalam membaca al-quran, dengan maknanya.[]

Sumber: What the Seeker Needs, Muhyiiddiin Ibn ‘arabi

Sumber Naskah:

Notes FB dari sahabat Dwi Afriyanti Arifyanto, kami haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau dan semoga Allah merahmati mbak Dwi Afriyanti sekeluarga. Amin.

Sumber Gambar:

http://3.bp.blogspot.com/_7K0Ancv7Vck/TGMjpHKpdvI/AAAAAAAAAFo/XF_JKOi6N5g/s1600/ibn%27Arabi.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: