Iri-dengki: Lorong Sempit Tersulit

Salaam Sahabats,
rumiMerenungi dan menikmati puisi-puisi Sang Maulana Rumi tidak akan pernah membuat kita terlena, bahkan kita beliau seru untuk selalu mawas diri. Berikut salah satu puisi beliau yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Sahabat Herman Soetomo (http://ngrumi.blogspot.com/search/label/harta-karun).
Selamat merenungkannya…

Iri-dengki: Lorong Sempit Tersulit

Jangan masuki lembah ini tanpa pemandu; [1]
ikutilah ucapan sang Khalilullah Ibrahim a.s, “… Aku tidak suka
sesuatu yang tenggelam …” [2]

Bertolaklah dari dunia bayangan, raihlah matahari:
berpeganglah ke lengan baju Lelaki seperti Syamsi-Tabriz. [3]

Jika belum kau ketahui alamat pesta perkawinan seperti ini,
carilah Cahaya al-Haqq, Husamuddin. [4]


Ketika engkau tengah menempuh Jalan, dan tenggorokanmu
tercekik iri-dengki, ketahuilah, itu ciri iblis;
dia melanggar batas karena iri-dengki.

Karena iri-dengkinya, dia membenci Adam a.s; [5]
dan karena iri-dengki pula dia berperang melawan kebahagiaan. [6]

Di dalam Jalan, tiada lorong sempit yang lebih sulit
daripada hal ini; beruntunglah pejalan yang tidak membawa
iri-dengki sebagai teman.

Ketahuilah, ragamu adalah sarang iri-dengki;
para warga di dalamnya tercemari oleh iri-dengki.

Semula, raga ini Tuhan buat sangat murni, tapi
kemudian menjadi sarang iri-dengki.

Ayat-Nya, “… dan sucikanlah rumah-Ku …” [7]
adalah perintah untuk memurnikan diri;
karena hanya di dalam qalb yang tersucikan tersimpan
harta-karun Cahaya Ilahiah, itulah sejatinya Permata Bumi.

Jika tipu-daya dan iri-dengki kau tujukan kepada seseorang
yang tanpa iri-dengki, maka asap gelap naik menghitamkan qalb-mu.

Perlakukanlah dirimu bagaikan debu di kaki para Lelaki Ilahiah,
seraya engkau benamkan iri-dengkimu ke tanah.

(Rumi: Matsnavi, I no 428 – 436, terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson)

Catatan:

[1] Jangan menempuh jalan pencarian tanpa bimbingan seorang Guru Sejati

[2] QS [6]: 76.

[3] “Matahari dari Tabriz,” pembimbing Mawlana Rumi ke Jalan pencarian Tuhan.

[4] Husamuddin, salah seorang murid kesayangan Mawlana Rumi,
bergelar “Zhiya ul-Haqq”. Diriwayatkan bahwa dialah yang mencatat
ujaran-ujaran Mawlana Rumi yang kemudian dikenal sebagai Matsnavi.

[5] QS [38]: 76, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah,” merupakan ucapan Azazil
yang menjadi sumber pertama iri-dengki; sejak itu dia terusir dan dikenal sebagai iblis.

[6] QS [38]: 82 – 83, “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya,kecuali abdi-abdi-Mu yang al-Mukhlashiin”.

[7] QS [22]: 46.

Sumber  Tulisan:

http://ngrumi.blogspot.com/2009/10/iri-dengki-lorong-sempit-tersulit.html

Sumber Gambar:

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:2rYnYyZYEKfKKM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: