Pojok Ngaji Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah Hikmah no 14


Sahabats,

Setelah kita belajar merenungkan dan berjuang mengamalkannya setahap demi setahap hikmah-hikmah yang penuh kedalaman makna dari seorang shiddiqin, yaitu Syaikh Ibnu Aththoillah ra. marilah kita melanjutkannya ke hikmah berikutnya.

Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah, Ustadz Salim Bahreisy dan Syeikh Fadhlala Haeri, mari kita awali kajian dan renungan kita.

______________________________________________________________________

Hikmah 14

“Alam itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya al-Haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya nur ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini.”

Ustadz Salim Bahreisy dalam syarahnya menulis:
Alam semesta yang mulanya tidak ada (adam) memang gelap, sedang yang mendhohirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yang melihat sesuatu benda di alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang terang, lalu ia mengira tidak ada sumber cahya lain yang juga merupakan sumber nyala cahaya yang dilhatnya tersebut. Padahal sebenarnya alam seisinya ini pada hakikatnya terlihat semata-mata karena cahaya Allah semata.

Sedangkan Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:
Meskipun seluruh alam ini diciptakan dari nur ilahi, tetapi semua wujudnya tampil sebagai cahaya dan bayang-bayang, baik dan buruk, siang dan malam. Jika seorang pencari spiritual tidak melihat Allah yang memancarkan nur-Nya di balik semua ini, berarti ia sedang diliputi kebingungan terhadap permainan bayang-bayang eksistensial dan awan-awan realitas yang berubah-ubah. Penciptaan manusia mempunyai makna dan tujuannya sendiri, yang berasal dari nur azali, yakni sebab yang selalu ada di balik perubahan-perubahan fenomena duniawi yang tampak.

Sahabat, mari dengan sepenuh kesadaran atas segala kelemahan kita dibanding Dia A’ala, kita hayati secara nurani firman Allah berikut:

“Allah Cahaya lelangit dan bumi..” (QS. An-Nuur[24]:35)
Laa haula wa laa quwwata illa billahi. []

Sumber Tulisan:

1. Buku Terjemah Al-Hikam Syaikh Ibnu Aththoillah, terjemahan Salim Bahreisy, Penerbit Balai Buku, Surabaya, 1980.

2. Buku Petuah Ruhaniah Ibn Ata’illah (terjemah dari The Wisdom of Ibn Ata’illah oleh Ade Alimah) syarah Syekh Fadhalla Haeri, Pustaka Sufi, 2003.

Sumber Gambar:

1. http://serambitashawuf.files.wordpress.com/2011/01/alhikam1.jpg

2. http://kertastua.files.wordpress.com/2010/07/scan100241.jpg

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: