Pojok Terjemah Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy – Hikmah no 1

alhikamSahabats…
Kitab Al-Hikam (arti bahasanya adalah jamak dari hikmah) adalah karya seorang Syaikh Ibnu Aththoillah, seorang yang karena rahmat Allah telah suci qalb/hati beliau dari penguasaan hawa nafsu, syahwat, cinta materi. Dalam beberapa untaian hikmahnya, beliau menggunakan bahasa yang menggambarkan pengalaman penyaksian mata bashirah beliau. Penglihatan bashirah ini jika diverbalkan biasanya menggunakan metafora (perumpamaan) padahal sesungguhnya dalam alam malakut hal itu adalah maujud/berwujud.

Sebaiknya ketika kita mengkaji karya-karya para ulama tashawwuf yang suci, sebisa mungkin kita mampu mengontrol pikiran kita terhadap kejahatan hawa nafsu kita, misalnya berprasangka buruk, menghakimi salah dengan tanpa ilmu, dsb. Insya Allah dengan kewaspadaan ini, Allah akan membimbing dan merahmati kita.

Dengan membaca Bismillahirrahmannirahim, serta kalau sahabat-sahabat tidak berkeberatan mengirimkan fadhillah/keutamaan bacaan QS. Al-Fatihah kepada Sang Syaikh Ibnu Aththoillah dan Ustadz Salim Bahreisy, mari kita awali kajian dan renungan kita.

Hikmah no 1
“Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah kurangnya rasa harap (kepada rahmat Allah) di sisi alam yang fana.”

Tambahan dalam buku terjemahan Al-Hikam oleh Ustadz Salim Bahreisy, di hal 10-11:
Kalimat: Laa ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah), berarti tidak ada tempat, berlindung, berharap kecuali Allah. Tiada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang member dan menolak melainkan Allah.
Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, agar tetap bersandar kepada karunia rahmat Allah.

Kalimat: Laa haula wa laa quwwata illa billahi (tiada daya dan kekuatan selain Kekuatan Allah), tak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”(QS. Yunus [10]:59)

Sedang bersandar pada amal usaha sendiri itu berarti lupa pada karunia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayah kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada Iblis ketika diperintahkan bersujud kepada Adam as, ia berkata:”Aku lebih baik dari dia (Adam)”
Juga telah terjadi pada Qarun yang berkata:”Seseungguhnya aku memperoleh kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.” (QS. Al-Qashash[28]:78)

Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayah dan karunia Allah.

Sedangkan kita hendaknya meneladani Nabi Sulaiman as. ketika bersyukur mendapat istana Ratu Bilqis.
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.(QS. An-Naml[27]:40)

Nah, sahabat-sahabat….
Mari kita introspeksi diri kita sambil merenungi hikmah di atas. Semoga Allah senantiasa membimbing serta merahmati kita untuk dapat mengerti dan mengamalkannya.

Wallahu a’lam bi shawwab []

Tulisan Terkait:

Sang Penulis Kitab Al-Hikam Syaikh Ibnu Aththoilla

Sumber Gambar:

About these ads

Satu Tanggapan

  1. [...] Pojok Terjemah Al-Hikam Karya Syaikh Ibnu Aththoillah oleh Ustadz Salim Bahreisy Hikmah no 1 Sumber Gambar: [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: